Banner Framedia

Kasus Dugaan Hilang Ingatan Siswi Karo Usai Keracunan MBG, Ini Kronologinya

Ilustrasi: AI-generated/FramediaID

Seorang siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami gangguan ingatan setelah diduga keracunan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut menjadi perhatian publik dalam beberapa hari terakhir setelah keluarga korban menceritakan perkembangan kondisi kesehatan sang anak kepada sejumlah media.

Korban bernama Febiola Beru Purba (16), siswi kelas 2 SMK jurusan Multimedia di Kabupaten Karo. Berdasarkan keterangan Elvinus Lusiana br Sitanggang, ibu kandung Febiola, gejala keracunan pada anaknya bermula pada 13 Agustus 2026. Febiola sempat mengalami mual, muntah, pusing, dan gatal-gatal, sehingga dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabanjahe dan menjalani perawatan selama tiga hari.

Setelah dipulangkan dari RSUD Kabanjahe, kondisi Febiola sempat membaik. Namun, menurut penuturan Elvinus, setibanya di rumah, Febiola mengalami kejang dan tidak sadarkan diri. Keluarga kemudian membawanya ke Rumah Sakit Umum Efarina, sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan. Di rumah sakit tersebut, Febiola menjalani perawatan selama sepekan.

Elvinus menuturkan, gangguan ingatan pada anaknya mulai terlihat setelah perawatan di RS Haji Medan. Ia menyebut cara bicara Febiola berubah menyerupai anak-anak. Saat ini, Febiola berstatus pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan, dengan riwayat kunjungan pemeriksaan pada 31 Agustus dan 7 September 2026.

Menurut keterangan keluarga, Febiola mengalami kesulitan mengenali orang-orang terdekatnya, termasuk anggota keluarga, teman sekelas, dan guru. Ayah Febiola, Icuk Sugiarto Purba, menyebut kondisi anaknya saat ini seperti anak berusia tiga tahun dan menyampaikan bahwa gangguan ingatan yang dialami mencapai sekitar 70 persen. Keterangan mengenai persentase tersebut merupakan pernyataan pihak keluarga dan belum disertai hasil pemeriksaan medis resmi yang dipublikasikan.

Sebelum mengalami sakit, Febiola dikenal sebagai siswi berprestasi. Ia disebut selalu meraih peringkat pertama di kelas sejak duduk di bangku sekolah dasar dan menjabat sebagai Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolahnya. Menurut keluarga, Febiola berulang kali menyampaikan keinginannya untuk kembali bersekolah, meskipun kondisi kesehatannya belum memungkinkan.

Manajer Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Haji Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, membenarkan bahwa Febiola tercatat sebagai pasien di rumah sakit tersebut dan tengah ditangani oleh dokter spesialis anak. Sebelumnya, penanganan medis terhadap Febiola juga melibatkan dokter spesialis gastroenterologi anak, neurologi anak, dan psikiatri.

Sejumlah pihak medis yang dimintai keterangan oleh media menyatakan bahwa kejang yang disertai gangguan ingatan atau amnesia tergolong jarang terjadi pada kasus keracunan makanan secara umum. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk uji toksikologi terhadap pasien maupun sampel makanan yang dikonsumsi, untuk memastikan penyebab pastinya.

Terkait dugaan keterkaitan dengan salah satu bahan makanan dalam menu MBG, pihak medis menyatakan bahwa temuan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan penyebab tanpa hasil pemeriksaan laboratorium yang memadai. Hingga artikel ini disusun, belum terdapat pengumuman resmi dari otoritas kesehatan mengenai penyebab pasti gangguan yang dialami Febiola.

Kasus yang dialami Febiola merupakan bagian dari rangkaian dugaan keracunan makanan program MBG yang terjadi di Kabupaten Karo. Berdasarkan informasi yang tersedia, terdapat 256 siswa di wilayah tersebut yang sempat menjalani perawatan akibat dugaan keracunan serupa.

Ombudsman Perwakilan Sumatera Utara mencatat total 823 korban gangguan kesehatan yang terkait dengan program MBG di provinsi tersebut. Ombudsman menyatakan akan merekomendasikan penutupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti melakukan pelanggaran berat, serta perbaikan koordinasi antara penyelenggara program dengan pemerintah daerah.

Selain permasalahan kesehatan, keluarga Febiola juga menghadapi kendala pembiayaan perawatan. Kedua orang tuanya disebut berhenti bekerja untuk mendampingi proses pengobatan anaknya. Kebutuhan tambahan seperti susu khusus, makanan, dan vitamin sesuai anjuran dokter turut membebani biaya rumah tangga. Menurut keterangan keluarga, bantuan langsung dari pemerintah terkait kasus ini belum mereka terima hingga saat artikel ini dipublikasikan.

Hingga kini, keluarga menyatakan belum berencana menempuh jalur hukum dan masih berfokus pada proses pemulihan kesehatan Febiola.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak