Virus yang dibawa tikus kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah kasus dilaporkan di beberapa negara. Pakar menegaskan hantavirus tidak menular seperti COVID-19, namun tetap berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga gagal ginjal.
Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah sejumlah laporan kasus infeksi muncul di berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir. Virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus liar, itu dikenal dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, termasuk gangguan paru-paru berat dan sindrom gagal ginjal.
Organisasi kesehatan internasional, termasuk World Health Organization dan Centers for Disease Control and Prevention, menyebut hantavirus sebagai penyakit zoonosis, yakni infeksi yang berpindah dari hewan ke manusia. Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengandung virus.
Meski kasusnya relatif jarang dibanding penyakit menular lain, tingkat keparahan infeksi membuat hantavirus tetap menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai. Para ahli menilai kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pola penularan menjadi salah satu faktor risiko utama.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh beberapa spesies hewan pengerat. Virus ini pertama kali mendapat perhatian internasional setelah wabah serius terjadi di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, pada awal 1990-an.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, terdapat dua sindrom utama akibat infeksi hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memengaruhi ginjal.
HPS lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika, sementara HFRS umum dilaporkan di Eropa dan Asia. Tingkat kematian HPS disebut dapat mencapai lebih dari 30 persen pada kasus berat.
“Infeksi ini memang tidak umum, tetapi ketika terjadi bisa berkembang cepat menjadi kondisi kritis,” ujar sejumlah pakar epidemiologi dalam berbagai laporan kesehatan internasional.
Cara Penularan Hantavirus
Penularan hantavirus paling sering terjadi melalui udara yang tercemar partikel dari kotoran tikus. Risiko meningkat ketika seseorang membersihkan gudang, loteng, rumah kosong, atau area tertutup yang menjadi sarang hewan pengerat.
Selain melalui inhalasi partikel, virus juga dapat menular lewat kontak langsung dengan urine atau air liur tikus, serta gigitan hewan yang terinfeksi, meski kasus tersebut lebih jarang ditemukan.
Berbeda dengan virus pernapasan seperti SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, sebagian besar jenis hantavirus tidak menyebar antarmanusia. Namun, beberapa varian tertentu di Amerika Selatan dilaporkan pernah menunjukkan kemungkinan transmisi terbatas antarindividu.
Pakar kesehatan menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan, tetapi tetap harus meningkatkan kewaspadaan, terutama terkait kebersihan lingkungan.
Gejala Yang Perlu Diwaspadai
Gejala awal hantavirus kerap menyerupai flu biasa, sehingga berpotensi terlambat dikenali. Penderita umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, mual, dan muntah.
Dalam kasus HPS, kondisi dapat memburuk dalam hitungan hari menjadi sesak napas berat akibat penumpukan cairan di paru-paru. Pada fase kritis, pasien membutuhkan perawatan intensif dan bantuan ventilator.
Sementara itu, HFRS biasanya ditandai gangguan fungsi ginjal, tekanan darah rendah, hingga perdarahan pada kasus berat.
Menurut sejumlah studi medis, masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung satu hingga delapan minggu setelah paparan virus.
Belum Ada Obat Khusus
Hingga kini belum tersedia obat antivirus spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus. Penanganan medis berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ dan membantu pernapasan pasien.
Deteksi dini dinilai sangat penting untuk meningkatkan peluang pemulihan. Pasien yang mendapatkan penanganan cepat di fasilitas kesehatan memiliki kemungkinan hidup lebih tinggi dibanding mereka yang terlambat didiagnosis.
Dokter spesialis penyakit infeksi menilai tantangan terbesar adalah gejala awal yang tidak spesifik. Karena itu, riwayat paparan lingkungan dengan populasi tikus tinggi menjadi informasi penting saat pemeriksaan medis.
Pencegahan Jadi Kunci Utama
Lembaga kesehatan global menekankan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif menghadapi hantavirus. Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan untuk mencegah perkembangbiakan tikus.
Beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan antara lain:
- Menutup akses masuk tikus ke rumah atau gudang
- Menyimpan makanan dalam wadah tertutup
- Menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi
- Tidak menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering karena dapat menyebarkan partikel ke udara
- Menggunakan cairan disinfektan sebelum membersihkan area tercemar
CDC menyarankan area tertutup yang lama tidak digunakan sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum dibersihkan.
Risiko di Kawasan Padat Penduduk
Di sejumlah negara berkembang, kepadatan permukiman dan sanitasi yang kurang baik meningkatkan potensi kontak manusia dengan tikus. Meski demikian, para ahli menilai risiko wabah besar hantavirus relatif rendah dibanding penyakit yang menular antarmanusia.
Di Indonesia sendiri, kasus hantavirus tidak sebanyak demam berdarah atau leptospirosis. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya paparan virus pada populasi tikus di sejumlah wilayah.
Epidemiolog menilai pengawasan penyakit zoonosis perlu diperkuat seiring meningkatnya urbanisasi dan perubahan lingkungan yang memengaruhi habitat hewan liar.
Tags
internasional
